hai!
agak canggung, lama tidak menulis di sini.
aku sempat membaca cerita-cerita yang terarsip, dan betapa banyak hal ternyata telah berlalu.
lalu tiba di hari ini.
hari-hari ini, aku masih belum sepenuhnya menyadari bagaimana perputaran waktu melewatiku.
sempat terasa sangat lambat, lambat sekali sampai rasanya begitu sesak.
9 februari 2026,
pagi itu aku diantar seorang teman ke stasiun kiaracondong.
hari sebelumnya, aku sempat sampaikan cerita ke temanku itu; sepanjang hidupku, hanya dua momen aku sama sekali tidak mengenali bapakku, pernah saat dia marah dan saat dia sedang sakit sekarang. dan aku pulang untuk alasan yang terakhir.
aku memasuki rangkaian kotak besi itu. sebuah ruang yang akan mengurungku hampir 10 jam. langkah-langkah menuju ke sana tidak pernah ringan. berkali-kali aku menyadari, rasanya sangat perih.
aku orang yang mudah sekali tertidur, apalagi mengetahui berapa lama waktu aku tidak bisa banyak beranjak dari kursiku. namun, hari itu berbeda. setiap hembusan nafas terasa sangat mencekik. aku mengutuk panjangnya rute yang harus kulalui untuk segera tiba.
di sana, aku terus berusaha terhubung dengan ibuku, tentang bagaimana perkembangan keadaan bapak, apa yang bisa dilakukan, dan banyak hal serius lainnya. beberapa kali aku menelepon jika ibuku lama membalas. padahal, jika dalam perjalanan kereta begitu, biasanya aku hanya akan berkontak seputar menjawab pertanyaan, sudah sampai stasiun mana? sudah makan? bisa tidur? dan menceritakan hal-hal remeh yang kujumpai di kereta.
hingga sampailah aku di stasiun kediri sekitar pukul setengah sembilan malam. langkahku terasa semakin lemah. biasanya, lagi-lagi biasanya, aku selalu disambut bapak dan kadang-kadang bersama ibu di gerbang pembatas untuk penjemput itu. biasanya, segera saja bapak menyabet tas ranselku untuk ganti dibawanya, dan sibuk menanyaiku mau makan apa.
hari itu aku dijemput adek sepupuku. biasanya kami hanya saling bercanda dan meledek. hari itu, lemparan candaan ia wurungkan karena menangkap badanku yg tidak sanggup lagi berdiri. aku menangis dalam tangkupannya, hal yang sepertinya tidak pernah kulakukan. aku tidak tau persisnya sejak kapan dia berubah menjadi laki-laki dengan pundak yang kuat itu. namun, dia mampu menangkapku, memapahku berjalan, sambil terus menenangkanku.
jam sembilan malam, aku tiba di rumah sakit. badan bapak tak banyak bergerak, ia tertidur miring. namun, matanya langsung menangkapku. aku salim dan peluk ibu sebentar, juga menyalami dua saudara yang saat itu ikut menemani. aku bingung dan tidak tau harus sampaikan apa. aku panggil bapak sangat lirih dan memeluknya. telingaku sangat dekat dengan bibirnya. ia bersuara sangat pelan, tapi aku bisa mendengarnya. ia menanyai dan menyuruhku untuk segera makan terlebih dahulu. dalam keadaan yang aku tidak tau bagaimana sakit yang ia rasakan, yang penting baginya tetap urusan perut anaknya.
sebentar kemudian ibu yang ganti menyuruh bapak makan. ibu menagih janji bapak, katanya kalau aku sudah tiba, bapak mau makan. bapak tepati janjinya. aku menyuapinya 3 sendok makanan. suapan maksimal yang bisa ia terima. selepasnya, aku hanya menenggelamkan kepalaku ke kasur tempatnya tidur. aku tidak lagi bersuara, begitupun bapak. tangan kami sama-sama saling memeluk, begitu juga air mata kami yang menetes dalam senyap. bapak tidak pernah sanggup melihatku menangis. bahkan ketika aku menangis saat ia tengah marah dan ekspresikan emosinya dengan keras sekalipun, bapak tidak pernah melihat mataku dengan benar.
aku seka matanya, juga mataku. kusampaikan, "gapapa, ya, pak. kita cari obatnya." ia mengangguk singkat, memberikan tangannya agar bisa kugunakan sebagai bantal. ia menyuruhku menyandarkan kepalaku di tangannya. rasanya lagi-lagi seolah tamparan. lagi-lagi, dalam keadaan yang semacam itu, ia masih ingin memastikan aku bisa menidurkan kepala dengan nyaman.
saudara dan adikku pulang. sisalah kami bertiga. ibuk duduk persis di sebelahku. kami saling menyentuh. tidak banyak kata tersampaikan, sebab kami sama-sama tau apa yang tidak terucap itu. semakin larut, bapak dengan tenaganya yang menipis itu terus menyuruhku tidur. perintah yang akhirnya diambil alih ibu sebab aku masih tidak bergegas. ibu menyiapkan aku tidur di sebelahnya. kami tidur, tapi tidak ada yang benar-benar tertidur. ruangan dingin sekali, lapis jaket hingga kaos kaki yang menyelimuti seolah tidak meringankan. beberapa kali aku bangun dan tanya bapak, apa ia tidak merasa dingin, sebab ia tidak mau diselimuti secara penuh. beberapa kali aku tanya, apa yang ia rasakan. beberapa kali pula ia mencari ibu. ia tidak ingin sampaikan sakitnya ke aku. entah tidak berani, entah tidak tega.
10 februari 2026
kami yang tidak benar-benar tertidur itu sudah bangun sekitar pukul 4. lalu segera saja bergantian salat subuh. aku lalu berbaring di atas kasur di balik punggung bapak. sebab ia hanya sanggup tidur miring ke kanan. di depan bapak ada ibu yang tengah mengaji al ma'tsurat. lagi-lagi bapak memberikan tangannya, membantu memegangi buku kecil itu sementara ibu mengaji. selepasnya, aku dengar ibu beberapa kali mengajak bapak bercanda. "anakmu kemarin kayaknya pulang, apa iya?" bapak hanya mengangguk. ibu melanjutkan, "terus sekarang di mana dia?" bapak hanya menggerakkan pundak kirinya ke belakang, mengisyaratkan bahwa aku berada di balik punggungnya. ibu masih melanjutkan, "lah, bapak aja tidak lihat ke belakang, kok tau anakmu di belakangmu. tercium baunya kah?" bapak mengangguk dan melengos. seolah sampaikan, candaan ibu terlalu remeh.
kami bergelut demikian untuk beberapa waktu. sampai sekira setengah 6 pagi, bapak meminta degan, air kelapa muda dan dagingnya itu. kami janjikan nanti, masih cukup pagi untuk mencari penjual degan. beberapa menit diam, ia kembali mengulang permintaannya. terus begitu hingga beberapa kali. ibu mulai berkutat dengan ponselnya, menghubungi saudara-saudara di rumah untuk mencarikannya. sementara aku bergelut dengan ponselku, berkutat mencari di aplikasi ojek online. mendekati pukul tujuh kami sama-sama mendapatkan jawaban, saudara dari rumah ada yang sedang mencarikan, sementara pesanan online-ku juga sedang diproses. tidak masalah terdobel, entah mana yang datang lebih cepat. kami mulai panik diburu-buru, sebab bapak terus menagih seolah tidak mengenal kata sebentar.
aku belikan dua porsi. aku konfirmasi, minta air dan daging buahnya dipisah, tanpa perlu es batu. driver menelepon, mengonfirmasi catatanku sembari memastikan kalau daging buahnya ingin dikerok dari cangkangnya. sepertinya pesananku akan datang lebih dulu. begitu driver semakin dekat, aku lekas turun dari ruang lantai empat itu. aku sedikit shock mendapati driver membawa pesananku masih bersama cangkang kelapanya. dua buah kelapa seukuran bola voli dan tiga gelas besar air kelapa. kejadian yang apalah aku harus membawa dua buah kelapa itu ke ruang inap. namun, persetan dengan itu. sesampainya di ruangan, aku segera memberikan air kelapa itu ke bapak. ia minum beberapa teguk dan beberapa kali. sudah. ia tidak meminta apa-apa lagi. saat sarapan datang, kami perlu membujuk bapak agar ia mau makan. kata ibu, bujukannya lebih mudah daripada kemarin. bapak cukup menurut denganku, ia tidak bisa melihatku mengomel. 3-4 suapan berhasil ia telan.
beranjak semakin siang, beberapa saudara datang. ada yang bantu memijat ringan—lebih pas disebut mengelus karena sangat pelan, ada yang sesekali mengajak mengobrol, meski bapak tidak banyak menjawab. bapak mungkin mulai merasa kebas karena terus terbaring miring ke kanan. bagian kanannya sudah sedikit bengkak karena peredaran darah tidak mengalir lancar di sana. beberapa kali dia sampaikan, ingin telentang. namun, baru kami bantu bergerak sedikit saja, sangat sedikit yang bahkan tidak cukup disebut pergerakan, bapak sudah mengatakan cukup. badannya tidak kuat untuk banyak berpindah. ia tidak kuat menyangga tubuhnya hanya sekadar untuk beralih telentang. meski begitu, ia beberapa kali masih meminta untuk dibantu telentang, dan selalu mengatakan cukup meski belum ada pergerakan. waktu bergulir, beberapa kerabat lain datang, bergantian keluar masuk dengan saudara yang lain. semua menyapa bapak, dan ketika ditanya, bapak masih mengenali dan menyebut nama satu per satu orang yang datang dengan tepat.
kata ibu, sekitar pukul 12 dokter biasanya datang untuk mengontrol. persis beberapa menit setelahnya, dokter datang. selepas melakukan beberapa pemeriksaan, aku mendekatinya, ingin mendengar langsung bagaimana kondisi bapak. beberapa langkah dari tempat tidur bapak, tapi aku yakin, bapak masih mendengar percakapan kami. dokter sampaikan beberapa tindakan yang harus dilakukan, sementara aku terus menanyakan alternatif lain apa selain tindakan itu. sebab, sedari di kereta kemarin, itu sudah menjadi diskusi antara aku dan ibu. kami ingin menolak. namun, dokter terus mengatakan, semua hal sudah diupayakan, dan tindakan itu direkomendasikan. aku masih meminta waktu untuk berunding. bapak mengetahui itu, dan ia terus sampaikan dengan bulat, agar tindakan segera dilakukan saja. kami akhirnya ikut mengiyakan dan mengonfirmasi ke suster jaga.
bapak kembali meminta untuk dibantu telentang. kami kesulitan karena bapak tidak bisa banyak menggerakkan badannya, sementara ketika kami memaksa mengangkat, bapak tampak kesakitan. beberapa kali upaya kami lakukan hingga berhasil. bapak sudah telentang, suster mulai melakukan tindakannya. ibu mulai terus meneteskan air matanya, bersandar ke kakak laki-lakinya yang sudah menemani sedari pagi. ia ikut lemah melihat bapak kesakitan. ibu memintaku untuk terus mendekap bapak.
suster terus menyuntik berusaha mengambil sampel darah bapak. namun, beberapa kali percobaan, pembuluh darah bapak tidak kunjung terlihat. percobaan suntikan dilakukan di sekujur tubuh bapak. aku merinding sendiri. aku tau, bapak tidak suka sekali disuntik. aku pegang tangannya, kutanyakan pertanyaan paling tidak masuk akal, "sakit tidak, pak?" bapak menggeleng kecil dan mengatakan tidak. suster terus mencari. sementara pertanyaan bodoh itu kuulang, "sakit tidak, pak?" bapak bilang, "tidak" sambil sesekali melihatku dan ibu. setelahnya aku hanya menuntun bapak berzikir. "kalau sakit, pakai zikir, 'Allah Allah' saja pak, tidak usah panjang." bapak menuruti. hingga kemudian sembari berzikir, bapak menarik nafas panjang tiga kali, hembusan nafas terakhir bapak yang begitu tenang. terbayang jelas, beberapa hari sebelum pulang, aku sempat sampaikan di telpon, "bentar, ya, pak. bapak sabar dan kuat, sebentar lagi aku pulang." bapak suka sekali mendengar aku meminta. dia ringan saja bisa mempertaruhkan dunianya untuk menuruti permintaanku. karenanya, aku jarang sekali meminta sesuatu ke bapak. upayanya selalu tidak masuk akal. namun, bapak adalah bapak. sampai akhir hidupnya, dia menuruti permintaanku; menungguku datang sampai ia bisa pergi. bapak pergi dalam keadaan telentang yang sama sekali tidak menyusahkan kami mengurus sisanya.
aku mendengar saudara mengucap kalimat tarji dan diikuti hamdalah karena melihat begitu lancarnya sakaratul maut bapak. suster mengatakan agar kami tenang, satu di antaranya keluar mengambil berbagai alat lain. aku terus berbisik di sebelah telinga bapak, tidak menangis. suster mulai mengecek jantung, menyuruh agar kami tidak menyentuh bed untuk mengetahui hasil yang valid. aku memeluk ibu yang terduduk di lantai. ibu sudah menangis hebat dalam dekapanku. aku terus berusaha menguatkan ibu, tanpa menangis sedikit pun, berusaha menyadarkan ibu dan menuntunnya istighfar.
suster dan dokter sudah mengonfirmasi. aku menyerahkan ibu ke kakaknya, menyabet handphone di meja dan keluar ruangan. aku segera menelepon saudara di rumah, mengabarkan bapak telah tiada dan minta bantuan agar mempersiapkan kondisi di rumah. setelahnya, aku merasa kosong masih belum menangis juga. tidak tau harus melakukan apa, tidak tau harus sampaikan ke siapa. aku kirim pesan ke empat orang teratas yang baru saja berkontak. satu di antaranya merespons cepat, segera saja aku meneleponnya. saat itulah tangisku pecah. aku menangis sendiri di lorong rumah sakit itu. duniaku rasanya runtuh. sampai beberapa saat hingga saudara mulai mencariku yang kutebak saja mungkin disuruh ibu setelah mengetahui aku keluar begitu saja.
...
Komentar